Ketika Lari Cuma Jadi Ajang Gengsi
Lari kerap disebut sebagai olahraga paling merakyat. Ia tidak menuntut alat rumit, tidak membutuhkan lapangan khusus, dan bisa dilakukan hampir di mana saja. Cukup sepasang kaki, ruang untuk bergerak, dan kemauan untuk melangkah. Namun, seiring waktu, makna kesederhanaan itu perlahan mengalami pergeseran. Di ruang publik hari ini, lari tidak lagi hadir semata sebagai aktivitas fisik, melainkan juga sebagai ekspresi gaya hidup.
Fenomena ini paling sering ada di kalangan generasi produktif. Lari seolah menjadi agenda yang “harus” dilakukan bukan hanya demi kesehatan, tetapi juga demi eksistensi. Media sosial berperan besar dalam membentuk wajah baru olahraga ini. Pelari tampil rapi dengan sepatu bermerek, smartwatch, jersey, dan dokumentasi. Lintasan lari berubah menjadi panggung, sementara kamera HP menjadi saksi bahwa aktivitas fisik kini juga bernilai simbolik.
Tren ini menyebar cepat, nyaris seperti kebiasaan menular. Seseorang tidak perlu diajak secara langsung; cukup melihat unggahan teman atau figur publik berlari di pagi hari, lalu dorongan untuk ikut serta muncul. Stadion olahraga, CFD, sampai taman kota menjadi ruang pertemuan banyak pelari. Event fun run yang rutin digelar tiap akhir pekan semakin memperkuat kesan bahwa lari adalah bagian dari budaya urban masa kini. Namun di balik euforia itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah lari masih soal kesehatan, atau telah bergeser menjadi ajang pembentukan citra sosial?
Tidak dapat disangkal, keinginan untuk hidup sehat adalah motivasi utama banyak orang. Lari menawarkan solusi sederhana di tengah gaya hidup yang kian sedentari. Namun, perkembangan industri olahraga turut memberi warna baru. Sepatu dengan teknologi mutakhir, aksesoris pendukung performa, hingga aplikasi pencatat aktivitas membentuk ekosistem yang mendorong konsumsi. Istilah “pelari kalcer” pun muncul sebagai penanda identitas—pelari yang bukan sekadar berlari, tetapi juga menampilkan estetika tertentu.
Dalam konteks ini, pengakuan sosial menjadi bagian tak terpisahkan. Unggahan Strava, foto pascalari, dan pencapaian jarak tempuh berfungsi sebagai validasi. Lari tidak berhenti di garis finis, melainkan berlanjut di layar ponsel. Fenomena Fear of Missing Out memperkuat dorongan tersebut. Banyak orang rela mengantre atau melakukan pre-order demi sepatu edisi terbatas, bahkan memaksakan diri membeli barang di luar kemampuan finansial agar tetap terlihat “masuk” dalam budaya yang sedang berlangsung.
Di titik tertentu, lari mulai memproduksi lapisan sosial baru. Mereka yang datang dengan perlengkapan sederhana kerap merasa asing di tengah dominasi visual merek dan aksesori mahal. Padahal, secara fungsi, sepatu biasa tetap mampu membawa tubuh bergerak. Namun, tekanan simbolik membuat kesederhanaan terasa seperti kekurangan. Lari yang dulu inklusif perlahan menciptakan batas tak kasatmata.
Meski demikian, dampak positif dari tren ini tidak bisa diabaikan. Paparan masif di media sosial berhasil menggerakkan banyak orang untuk aktif bergerak. Data dari berbagai aplikasi kebugaran menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pelari di Indonesia. Komunitas-komunitas lari tumbuh di berbagai kota, menciptakan ruang sosial baru yang relatif sehat dan produktif. Bahkan, sebagian pihak memanfaatkan momentum ini untuk mendorong kesadaran lingkungan melalui aktivitas seperti plogging yaitu berlari sambil memungut sampah.
Pemerintah daerah pun merespons dengan pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Jogging track, ruang terbuka hijau, dan fasilitas umum diperbarui demi menunjang aktivitas masyarakat. Dampak lanjutannya terlihat pada pergerakan ekonomi kecil di sekitar lintasan lari serta peningkatan kualitas tata kota. Dalam konteks ini, lari berkontribusi pada perubahan sosial yang lebih luas.
Namun, persoalan muncul ketika nilai konsumsi mulai mendominasi. Lari tak lagi dinilai dari konsistensi atau manfaat kesehatan, melainkan dari apa yang dikenakan. Fotografer jalanan, unggahan estetik, dan kompetisi implisit di media sosial memperkuat kesan bahwa berlari juga soal tampil. Mereka yang tidak mampu mengikuti standar visual ini berisiko tersisih secara simbolik, meski secara fisik mampu berlari sejauh yang lain.
Pada akhirnya, yang perlu dikritisi bukanlah teknologi atau fesyen itu sendiri, melainkan cara kita memaknainya. Lari seharusnya tetap menjadi ruang aman bagi siapa pun baik yang memakai sepatu jutaan rupiah maupun yang berlari dengan alas kaki sederhana. Identitas pelari tidak semestinya ditentukan oleh merek, melainkan oleh niat untuk menjaga tubuh dan kesehatan mental.
Mengembalikan lari pada esensinya bukan berarti menolak perubahan, tetapi menyeimbangkannya. Bahwa di tengah arus konten dan gengsi, masih ada ruang untuk kesederhanaan. Bahwa lintasan lari bukan arena seleksi kelas sosial, melainkan tempat setiap langkah memiliki nilai yang sama. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa mahal perlengkapan yang dipakai, melainkan seberapa konsisten seseorang melangkah menuju hidup yang lebih sehat dan utuh.
Selesai membaca Ketika Lari Cuma Jadi Ajang Gengsi. Kita punya banyak topik lain yang tak kalah menarik dan akan membuka perspektif baru Anda. Jelajahi semua konten terpopuler Gemadev.com sekarang juga