Kenapa Allah Tak Lebih dari Satu?
Coba bayangkan sejenak, jika Allah itu lebih dari satu. Kedengarannya mungkin menarik di awal. Tugas bisa dibagi, tanggung jawab terasa lebih ringan, urusan alam semesta seolah bisa dikelola bareng-bareng. Ada Allah yang ngurus hujan, ada yang ngatur rezeki, ada pula yang bertanggung jawab atas hidup dan mati.
Namun, bayangan itu hanya tampak indah di permukaan. Begitu dipikirkan lebih dalam, justru di situlah awal kekacauan bermula.
Setiap pemimpin, sekecil apa pun lingkupnya, pasti punya cara pandang, prinsip, dan visi yang ingin diwujudkan. Jika dalam satu sistem ada dua pemegang kuasa dengan kehendak berbeda, konflik bukan lagi kemungkinan—melainkan keniscayaan. Alam semesta tidak diciptakan untuk menunggu perdebatan, apalagi tarik-menarik kepentingan.
Mengatur seluruh isi dunia bukan perkara ringan. Makhluk hidup jumlahnya tak terhitung. Manusia saja beragam: dari bayi yang belum mengenal dunia, anak-anak yang belajar berjalan, remaja dengan gejolak jiwa, orang dewasa dengan beban tanggung jawab, hingga lansia yang kembali rapuh. Belum lagi hewan, tumbuhan, mikroorganisme, dan makhluk yang bahkan tak terlihat oleh mata manusia.
Semua bergerak dalam satu sistem yang rapi dan presisi. Matahari terbit tanpa pernah terlambat, malam datang tanpa perlu diingatkan, musim berganti tanpa rapat koordinasi.
Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 38:
“Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini adalah penegasan bahwa alam semesta berjalan dalam satu kehendak, satu aturan, dan satu kekuasaan. Bayangkan jika matahari terlambat terbit hanya beberapa menit saja keseimbangan dunia bisa runtuh.
Karena itu, Allah Maha Kuasa bersifat mutlak. Bukan otoriter karena kesewenang-wenangan, tetapi karena kesempurnaan pengaturan. Kekuasaan-Nya bukan hasil ambisi, melainkan konsekuensi dari tanggung jawab menjaga seluruh ciptaan.
Bandingkan dengan kehidupan manusia. Dalam satu komunitas kecil saja, dua pemimpin dengan konsep berbeda sering kali menimbulkan perpecahan. Masing-masing merasa paling benar, sama-sama sulit menerima pandangan lain, dan akhirnya energi habis untuk saling menyalahkan. Tidak jarang, yang menuduh “sulit diatur” justru lupa bahwa dirinya pun enggan diatur.
Padahal, menjadi pemimpin berarti siap menghadapi risiko. Tidak semua perintah dipatuhi, tidak semua rencana berjalan mulus, dan tidak semua orang bergerak sesuai harapan. Bahkan dalam lingkup kecil, hal itu sudah terasa berat.
Menariknya, Allah yang mengatur seluruh alam tidak pernah mengeluh ketika hamba-Nya membangkang. Banyak manusia yang lalai, bahkan menyekutukan-Nya. Namun, Allah tetap memberi napas, rezeki, dan kesempatan hidup. Matahari tetap terbit bagi semua, tanpa diskriminasi.
Inilah perbedaan antara kekuasaan ilahi dan kekuasaan manusia. Allah Maha Mengatur, tetapi juga Maha Penyantun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan soal memerintah, melainkan kesiapan bertanggung jawab. Pemimpin sejati juga harus siap dipimpin oleh aturan, oleh nilai, dan oleh kebenaran.
Tidak ada kepemimpinan tanpa yang dipimpin. Tidak ada “satu” tanpa “banyak”. Karena itu, memimpin bukan soal memaksakan kehendak, tapi menuntun proses. Tidak semua bisa instan. Dalam istilah Jawa: "Alon alon asal kelakon".
Allah sendiri menciptakan segala sesuatu melalui proses. Manusia tidak hadir ke dunia dalam sekejap. Ada waktu, tahapan, dan kesabaran panjang. Maka terasa janggal jika manusia mudah mengeluh hanya karena satu fase kehidupan terasa berat.
Allah menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Jika ada lebih dari satu Tuhan, dengan kehendak dan aturan berbeda, dunia akan berada dalam kebingungan abadi. Siang dan malam bisa saling bertabrakan, hukum alam tak lagi konsisten, dan manusia kehilangan arah.
Justru karena itulah, Allah itu satu. Agar hidup punya kepastian, alam berjalan seimbang, dan manusia tahu kepada siapa ia berserah.
Allah memberi segalanya, bukan karena Dia membutuhkan ketaatan manusia, tetapi karena manusia membutuhkan-Nya. Maka pertanyaannya kembali kepada kita:
jika semua sudah diberi, mengapa masih enggan untuk diatur?
Selesai membaca Kenapa Allah Tak Lebih dari Satu?. Kami punya banyak topik lain yang tak kalah menarik dan akan membuka perspektif baru Anda. Jelajahi semua konten terpopuler Gemadev.com sekarang juga!